Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, saya dan teman-teman sekalian masih diberi nikmat yang luar biasa hari ini, terutama saya. Satu bulan saya tidak membuat tulisan, membuat saya merasa bersalah (padahal juga tidak ada yang menunggu tulisan saya selanjutnya, haha). Alhamdulillah, hari bahagia menghampiri saya, hal yang saya tunggu-tunggu dalam setahun belakangan ini. Iya! PHK... hahaha... Kenapa saya senang di PHK? Karena saya sungkan untuk resign, saya tidak punya alasan untuk resign tapi ingin berhenti bekerja. Iya! Hati nurani saya tidak berada di pekerjaan ini, berakhir pada stress berat hingga muncul keinginan untuk bunuh diri (jangan ditiru ya).
Alhamdulillah, Allah hadir dalam hati saya. Maka saya hanya berteriak, "ALHAMDULILLAH, I'M FREEEEE....!! I LOVE YOU, ALLAH!!"
Halooo? Judulnya tentang Bromo kok malah ngelantur kesana kemari, sih? Jadi, kisah saya ke Bromo ini dimulai 5,5 jam setelah saya mendapat SPHK. Kegembiraan saya jadi berlipat-lipat ganda dong. Impian saya ke Bromo yang terpendam selama 4 tahun, akhirnya terwujud.
Saya ke Bromo ikut dalam sebuah tour trip, jadi rombongan alias tidak sendiri. Terdiri dari 12 orang, ada 2 teman baru yang saya kenal pada bulan Juni lalu. Dari mereka lah saya bisa mewujudkan impian saya ke Bromo. Yeay! Thanks, kalian... love you fuuuullll!! Nah, pukul 22.00 wib kami kumpul di titik penjemputan (Surabaya). Kalau kalian pesan tour/trip travel, bisa menentukan titik penjemputan sendiri sesuai biaya yang sudah kalian tentukan. Tour travel ke Bromo disediakan oleh pihak-pihak yang ada di wilayah sekitar Gunung Bromo, info yang saya dapatkan biasanya penjemputan dari Malang (stasiun atau terminal di Malang) dan Surabaya (Stasiun Gubeng). Kembali ke persoalan sebelumnya, kalian bisa tentukan titik penjemputan. Misalnya, kalau kalian tinggal di Surabaya, bisa kok dijemput selain di Stasiun Gubeng, sesuai kesepakatan saja dengan tour travel yang kalian sewa.
Sekitar pukul 22.30 wib kami berangkat, perjalanan memakan waktu 3-4 jam dan di tengah perjalanan kami mampir di rumah makan untuk mengisi tenaga sekitar pukul 00.30 wib, supaya kuat tracking ke penanjakan nantinya gitu. Setelah isi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju ke apa ya namanya, semacam terminal jeep mungkin ya? Tempat jeep-jeep ini ada di desa Wono... (kami lewat Probolinggo). Jadi, di tempat jeep tersebut ada banyak jeep yang sudah siap mengantar tamu (cielah, kami tamu bok) dan sepertinya jeep-jeep ini sudah dibooking alias sudah kerja sama dengan tour travel. Sebelum sampai di pangkalan jeep (ok saya sebut ini pangkalan jeep saja, bukan terminal), sempat melihat beberapa jeep yang menawarkan tumpangan, 1-5 kali ada lah ya, atau lebih bahkan.
![]() |
| Pangkalan Jeep |
Nah, di sini dari mobil kami pindah ke jeep karena perjalanan menuju penanjakan masih berbatu dan pasir (belum diaspal) jadi mobil biasa akan kesulitan melaluinya. Penanjakan yang kami tuju yaitu penanjakan 2 atau biasa di sebut Seruni Point, sedangkan penanjakan 1 biasa disebut Bukit Kingkong dan Bukit Kingkong ini sangat banyak peminatnya, karena takut bakal macet dan tidak bisa mendapatkan sunrise di puncak, akhirnya kami memilih Seruni Point ini. Di perjalanan menuju penanjakan ini, kami bertemu beberapa turis asing yang sudah memulai pendakian dan beberapa kuda yang siap disewakan untuk turis-turis.
Sekitar pukul 03.00 wib kami mulai melakukan pendakian. Baru di awal pendakian saya sudah terpisah dengan rombongan, mereka tertinggal di belakang saya. Sekali-kali saya berhenti sambil menunggu rombongan, namun tidak segera kunjung akhirnya saya meneruskan pendakian sendiri. Beberapa turis asing mulai menyalip saya yang sebelumnya saya temui saat perjalanan jeep. Bersyukur pendakian menuju puncak Seruni ini sangat mudah, jalur ini sudah berupa jalan cor-coran , tidak sampai setengah jam saya sudah sampai -saya menyebutnya- pos 1. Pos ini berada sebelum jalur pendakian yang berupa anak tangga, terdapat toilet dan beberapa gubuk makan yang menyediakan minuman hangat instan dan mie instan.Buat kalian yang kelaparan setelah mendaki, kalian bisa istirahat sejenak disini dan atau mengisi perut kalian.
Lanjuuuuttt... 30 menit berlalu akhirnya rombongan saya tiba dan meneriakkan nama saya untuk memastikan apakah ini adalah saya. Lima menit kemudian saya memustuskan untuk naik ke puncak karena mengejar waktu subuh, lagi-lagi saya sendiri, sebab teman rombongan masih kelelahan dan istirahat di pos 1. Untuk sampai di puncak dari pos 1 tidak membutuhkan waktu yang banyak, kira-kira 10 menit saya sudah sampaaaaaaiiii. Setelah itu saya langsung mencari tempat agar bisa mendirikan sholat subuh, melihat ada orang lain yang sama-sama mencari tempat untuk sholat dan membawa alas, saya meminta agar bisa ikut berjamaah. Inilah pengalaman berharga saya di Gunung Bromo, sholat subuh di puncak dengan suhu sekitar yang sangat dingin. Dinginnya suhu sangat terasa saat sholat sebab kami harus berdiam untuk berdoa (sholat), beda dengan saat kita menggerakkan tubuh (dalam konteks ini saya menggerakkan tubuh dengan mendaki itu tadi) dingin bisa diminimalisir, bahkan kalian bisa saja berkeringat. Saya sih tidak, hanya saja tubuh saya hangat.
Kami menunggu matahari terbit sembari bercengkrama dengan turis yang lain (saya bilang turis supaya berkelas, turis lokal kami mah). Di sebelah saya ada beberapa turis melayu, saya tidak tau apakah dia orang Malaysia, atau Indonesia, atau Brunei, pokoknya Melayu saja sebab mereka cakap Melayu, saya pun tidak cakap dengan mereka. Akhirnya sinar jingga mulai tampak, kami siap mengabadikan momen ini dengan kamera masing-masing entah dari handphone atau kamera canggih. Sayang sekali saya tidak membawa tripod, namun saya nekat merekam momen matahari terbit ini belagak membuat video ala-ala time lipse.
![]() |
| Momen Sunrise, Masyaallah cantik sekali |
Bersambung...


0 Komentar