Assalammualaikum
Maret 2019, saya pertama kalinya ke Madura, tugas kantor. Setelah bergumul dengan perkataan orang tentang hal-hal negatif di Madura, akhirnya saya memberanikan diri menginjakkan kaki di pulau ini. Tugas kantor, tetep ya. Bayangan saya mengenai pulau ini, tanahnya tandus dan orang-orangnya galak. Apakah benar?

Bangkalan - kota pertama yang mengawali perjalanan saya di pulau Madura. Paling dekat dengan Surabaya dan dihubungkan dengan jembatan Suramadu, jembatan terpanjang di Indonesia. Sebelum dibangun jembatan ini, akses ke Madura melalui pelabuhan Perak di Surabaya ke pelabuhan Kamal di Madura yang menempuh waktu lebih lama.

Kesan pertama yang saya rasakan begitu tiba di pintu Madura alias ujung Suramadu dari arah Surabaya, yaitu hamparan sawah hijau yang sangat luas. Tak kalah dengan persawahan kabupaten-kabupaten di Jwa Timur lainnya. Tak kalah juga dengan sawah-sawah di Jogja. Memang waktu saya berkunjung ini musim hujan masih berlangsung, dimana sangat sering hujan lebat di daerah ini yang jarang sekali saya rasakan di Surabaya.

Makanan khas Madura yang langsung saya cicipi begitu tugas kantor selesai. Bebek sinjay yang khas dengan sambel pencit atau sambel mangga muda seharga Rp. 27.000,-, memang ada cabangnya di Surabaya, namun saya memilih mencicip di tempat asalnya karena rasanya juga pasti original. Mengapa saya berpikir begitu? Sebab saya pernah mencoba soto lamongan di Jogja yang rasanya sangat jauh kurang nikmat daripada di Lamongan yaitu tempat asal makanan ini. Buat kalian yang pernah menikmati makanan daerah di tempat asal makanan tersebut pasti juga merasakannya, kan?

Sampang - sayang sekali saya tidak memiliki banyak pengalaman di kota ini selain hanya menjalankan tugas kantor. Yang membuat saya takjub justru saat perjalanan dari kota ini menuju Pamekasan. Akses jalan ini berada tepat di pinggir laut. Pemandangan biru lautnya lah yang menghibur kesuntukan saya selama di angkutan umum menuju Pamekasan. Oh iya, ongkos dari Sampang ke Pamekasan pun sangat terjangkau, yaitu Rp. 7.000,- saja, berhenti di kota Pamekasan (terminal lama). Dari Sampang ini saya dibantu penduduk lokal mencari angkutan ke Pamekasan setelah makan nasi campur yang hanya Rp. 10.000,- dengan es teh, kalau di Surabaya sekitar Rp. 18.000,-.

Pamekasan - lagi-lagi saya tak punya banyak cerita mengenai kota ini. Menurut saya kota ini lebih ramai dan lebih produktif daripada kota lain di Madura. Saya bertemu orang baik di kota ini yang bersedia memberi saya tumpangan ke terminal yang ada bus menuju arah Surabaya, sebab saya kebingungan.

Sumenep - nah kabupaten ini yang menurut saya paling luas di Madura. Sebab ada pulau-pulau kecil di sekitar Madura timur yang masuk ke kabupaten Sumenep. Sepanjang perjalanan dari Pamekasan lagi-lagi saya disuguhi pemandangan laut lepas yang begitu biru. Birunya laut di Madura ini baru pertama kali saya lihat, gradasi warna yang menunjukkan dangkal tidaknya laut tersebut sangat menawan dan jernih. Sebab biru laut di daerah Jawa Tengah atau Jogja tidak secantik ini. Pernah terlintas pikiran ingin ke Gili Labak atau pulau-pulau kecil lain di Sumenep. Apa daya waktu tidak berpihak pada saya. Mungkin lain waktu alias saya bisa liburan tanpa embel-embel tugas kantor.
Bus yang menggemaskan dari Sumenep ke Malang transit di Terminal Purabaya
Akhirnya saya membuktikan bahwa Madura tidak tandus, memang banyak bukit atau tanah kapur, namun hamparan sawah yang luas juga meruntuhkan anggapan negatif saya. Orang-orangnya galak? Jawabannya "iya" dan "tidak" karena saya menemui dua sifat tersebut namun beda orang. Masih banyak orang baik di sini. Saya juga diceritakan dari orang lokal yang duduk di samping saya ketika perjalanan pulang dari Pamekasan bahwa beliau tinggal di Bangkalan dan mengatakan kalau malam hari diatas jam 9 malam banyak begal. Uuuww ngeri! Kemudian saya selalu menjumpai kaum laki-laki di sini suka memakai sarung kemana-mana dan untuk kaum hawa mereka suka memanjangkan rambut juga merawatnya sehingga terlihat hitam legam cantik ditambah mereka suka memakai celak di garis bawah mata, bahkan celak juga dipakaikan untuk bayi. Mengingatkan saya pada teman saya dari India Selatan. Persis! Dari adat memakai sarung hingga celak. Bahkan dari postur tubuh dan raut wajah hampir sama.

Lalu bagaimana akses menuju Pulau Madura? Dari Surabaya bisa naik mobil pribadi atau naik bus dari Terminal Purabaya. Ongkosnya tergantung dengan tujuan masing-masing, ada 2 pilihan bus yaitu bus ekonomi dan bus patas. Jika ingin hemat saya sarankan naik bus ekonomi dan cari yang ada AC agar nyaman.
Surabaya-Sampang bus patas Rp. 40.000,-
Surabaya-Pamekasan bus ekonomi Rp. 35.000,- bus patas Rp. 48.000,-
Surabaya-Sumenep bus patas Rp. 60.000,-

Kalau liburan enaknya ke Gili Labak dan pulau kecil lainnya nggak ya?

Wassalammualaikum