Tidak terasa hampir setahun saya tinggal di Surabaya. Tidak 365 hari penuh saya di Surabaya, karena terpotong mudik dan perjalanan bisnis. Sebagai orang asli Jawa Tengah campur Jogja yang super halus, tentu saja saya mengalami culture shock, apalagi saya belum pernah merantau sama sekali. Tahun 2015 saya pernah tinggal selama sebulan di Surabaya untuk pendalaman materi kuliah. Tinggal di asrama kampus bersama teman-teman dan senior-senior baru di Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Pasti sangat berbeda dengan kehidupan merantau seorang diri. Nah, kali ini saya ingin berbagi hal-hal yang membuat saya culture shock.
Makanan- sebagai pecinta makanan, tentu saja ini menjadi hal yang sangat mengesankan bagi saya. Di Surabaya rata-rata makanan tidak lepas dari sambal. Saya rasa bukan di Surabaya saja, memang kebanyakan orang Indonesia kalau makan tanpa sambal itu kurang nikmat. Sebenarnya yang membuat saya shock adalah sambal di sini super duper pedas. Kalau aksen Surabaya atau jawa timuran itu seperti ini, "puuuwedeess" bisa juga ditambah "puuoooll". Jujur saya juga suka pedas, saya suka pedasnya Surabaya. Nikmat! Yang sangat disayangkan yaitu pencernaan saya tidak bersahabat dengan makanan yang super pedas. Yang menariknya lagi, ada beberapa rumah makan yang menyediakan berbagai macam sambal, bahkan sambal-sambal khas dari luar daerah Surabaya sampai luar pulau. Contohnya: sambal roa, sambal bajak, sambal matah, dsb.
Masih seputar makanan, saya penyuka gado-gado, tapi bumbu gado-gado di sini masih kalah dengan gado-gado di Jogja (subjektif sih). Apa yang menjadi nilai kurang? Kurang gurih, kurang manis, kurang kenthel, kurang pekat. Nah, kalau untuk pecel di sini alias daerah Jawa Timur juaranya (the best), apalagi pecel Madiun yang memang paling juara soal pecel (saya pernah beli di stasiun Madiun). Ada lagi yang baru di lidah saya, yaitu petis. Petis sering digunakan sebagai campuran dalam bumbu kacang di dunia rujak di Surabaya. Sampai saat ini masih terasa aneh di lidah saya, namun karena saya pecinta bumbu kacang, ini bisa menambah daftar makanan kesukaan saya, yaitu tahu tek, bukan rujak cingur karena saya pernah beli rujak cingur tapi menggunakan cece (kulit sapi yang tebal) yang membuat saya eneg (keponakan teman saya yang asli orang Surabaya sangat suka cece). Yang belum saya coba di sini yaitu tahu campur dan rawon. Dulu waktu kecil saya pernah dibuatkan rawon oleh nenek namun saya tidak suka, itu alasan saya tidak mau mencicipi rawon lagi. Satu lagi, nasi goreng di sini warnanya merah, karena penjual cenderung menggunakan saus sambal. Kamu wajib coba kalau ke Surabaya.
Cuaca- kalau masalah cuaca panas, ya di sini saya merasakan panas yang cukup gerah dan menyengat jika dibandingkan dengan di Jogja. Padahal di Jogja pernah merasakan suhu panas paling tinggi yaitu mencapai 33 derajat celcius. Sedangkan di Surabaya mencapai 37 derajat celcius. Namun tidak bisa dibandingkan dengan musim panas di negara yang memiliki 4 musim. Di sana bisa lebih tinggi, bahkan salah satu teman saya yang asli India, panas di sana mencapai 44 derajat celcius.
Soal polusi bisa saya katakan baik dan cukup buruk. Kenapa? Di Surabaya sendiri memiliki tatanan taman kota yang sangat baik bahkan mendapat peringkat pertama sebagai kota terbaik di Guangzhou International Award tahun lalu. Saya suka jalan-jalan dan melepas penat di taman-taman besar di Surabaya (Jogja harus contoh nih). Saya selalu melihat petugas yang menyirami tanaman-tanaman di tengah atau di pinggir jalan pagi, siang, dan malam. Saya sangat mengapresiasi akan hal ini. Gila sih! Keren! Nah, buruknya saya tinggal di dekat kawasan industri yang mana saya juga tidak jarang melihat langit yang warnanya biru keabu-abuan dan banyak debu. Namun bagusnya lagi kawasan industri di sini lagi-lagi banyak pohon-pohon yang sangat rindang. Salut buat tata kota Surabaya. Oh iya, jalan raya di sini lebar-lebar.
Masyarakat- sudah menjadi rahasia umum kalau orang Surabaya itu kasar dalam berbicara. Bisa dibilang iya dan tidak sih. Meskipun mereka memiliki sisi yang kasar namun mereka juga punya nurani, sama seperti orang pada umumnya, mereka sangat suka tolong menolong. Kadang juga mereka ini pelupa, lupa kalau mereka sudah berbuat baik. Pemarah, suka misuh, dan serba cepat. Di Surabaya kerja cepat dan benar sudah menjadi tuntutan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Ada lagi satu hal yang menurut saya ini lucu, orang-orang sini kalau berhenti di lampu merah terutama motor suka berhenti di depan marka penyeberangan (zebra cross).
Biaya hidup- saya adalah anak yang memilih untuk memasak sendiri daripada beli makanan matang. Makan besar paling murah di sini yaitu nasi pecel seharga Rp. 8.000,- sedangkan di Jogja Rp. 5.000,- dengan porsi yang sama, bahkan jauh dari perkotaan kamu bisa menemukannya seharga Rp. 3.000,- saja. Harga tersebut hanya dapat nasi kucing atau tempe mendoan kalau di Surabaya. Nah, untuk harga sembako tidak jauh berbeda antara Surabaya dan Jogja. Tergantung kamu beli di pedagang yang mana. Sama di Jogja juga ada pedagang yang jual rata-rata, di atas rata-rata, bahkan di bawah rata-rata. Senangnya saya tinggal di dekat Sidoarjo yang harga sembako cenderung lebih murah daripada tempat langganan saya. Kadang saya kalau jalan ke Sidoarjo mampir jajan dan beli sembako atau sayur mayur. Soal kos, di pusat kota kamu bisa dapat kos-kosan paling murah Rp. 300.000,- untuk 1 orang per kamar, kamar mandi luar, sudah ada kasur dan lemari, termasuk listrik dan air. Sedangkan di daerah saya tinggal (daerah industri), kos-kosan tipe tersebut kamu dapatkan paling murah Rp. 450.000,-. Sebelah kos saya baru saja selesai pembangunan jalan merr (middle east ring road) yaitu termasuk jalan utama di Surabaya, jalan ini terbentang dari ujung utara Kenjeran sampai ujung selatan tol menuju Bandara Juanda. Iya, kos saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai ke Bandara Juanda. Harga angkutan pun cukup murah Rp. 5.000,- saja untuk sekali jalan. Kalau mau lebih murah lagi pakai Bus Suroboyo cukup bayar dengan botol plastik kamu bisa keliling Surabaya. Sebelum meninggalkan tanah rantau ini saya harus mencoba Bus Suroboyo.
Nah, itu saja yang menjadi culture shock bagi saya selama saya tinggal di Surabaya. Selanjutnya culture shock dari daerah mana lagi yang akan saya rasakan?
![]() |
| Oleh-oleh khas Surabaya; source image from google |
Masih seputar makanan, saya penyuka gado-gado, tapi bumbu gado-gado di sini masih kalah dengan gado-gado di Jogja (subjektif sih). Apa yang menjadi nilai kurang? Kurang gurih, kurang manis, kurang kenthel, kurang pekat. Nah, kalau untuk pecel di sini alias daerah Jawa Timur juaranya (the best), apalagi pecel Madiun yang memang paling juara soal pecel (saya pernah beli di stasiun Madiun). Ada lagi yang baru di lidah saya, yaitu petis. Petis sering digunakan sebagai campuran dalam bumbu kacang di dunia rujak di Surabaya. Sampai saat ini masih terasa aneh di lidah saya, namun karena saya pecinta bumbu kacang, ini bisa menambah daftar makanan kesukaan saya, yaitu tahu tek, bukan rujak cingur karena saya pernah beli rujak cingur tapi menggunakan cece (kulit sapi yang tebal) yang membuat saya eneg (keponakan teman saya yang asli orang Surabaya sangat suka cece). Yang belum saya coba di sini yaitu tahu campur dan rawon. Dulu waktu kecil saya pernah dibuatkan rawon oleh nenek namun saya tidak suka, itu alasan saya tidak mau mencicipi rawon lagi. Satu lagi, nasi goreng di sini warnanya merah, karena penjual cenderung menggunakan saus sambal. Kamu wajib coba kalau ke Surabaya.
Cuaca- kalau masalah cuaca panas, ya di sini saya merasakan panas yang cukup gerah dan menyengat jika dibandingkan dengan di Jogja. Padahal di Jogja pernah merasakan suhu panas paling tinggi yaitu mencapai 33 derajat celcius. Sedangkan di Surabaya mencapai 37 derajat celcius. Namun tidak bisa dibandingkan dengan musim panas di negara yang memiliki 4 musim. Di sana bisa lebih tinggi, bahkan salah satu teman saya yang asli India, panas di sana mencapai 44 derajat celcius.
Soal polusi bisa saya katakan baik dan cukup buruk. Kenapa? Di Surabaya sendiri memiliki tatanan taman kota yang sangat baik bahkan mendapat peringkat pertama sebagai kota terbaik di Guangzhou International Award tahun lalu. Saya suka jalan-jalan dan melepas penat di taman-taman besar di Surabaya (Jogja harus contoh nih). Saya selalu melihat petugas yang menyirami tanaman-tanaman di tengah atau di pinggir jalan pagi, siang, dan malam. Saya sangat mengapresiasi akan hal ini. Gila sih! Keren! Nah, buruknya saya tinggal di dekat kawasan industri yang mana saya juga tidak jarang melihat langit yang warnanya biru keabu-abuan dan banyak debu. Namun bagusnya lagi kawasan industri di sini lagi-lagi banyak pohon-pohon yang sangat rindang. Salut buat tata kota Surabaya. Oh iya, jalan raya di sini lebar-lebar.
![]() |
| Rindangnya kawasan industri SIER |
Masyarakat- sudah menjadi rahasia umum kalau orang Surabaya itu kasar dalam berbicara. Bisa dibilang iya dan tidak sih. Meskipun mereka memiliki sisi yang kasar namun mereka juga punya nurani, sama seperti orang pada umumnya, mereka sangat suka tolong menolong. Kadang juga mereka ini pelupa, lupa kalau mereka sudah berbuat baik. Pemarah, suka misuh, dan serba cepat. Di Surabaya kerja cepat dan benar sudah menjadi tuntutan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Ada lagi satu hal yang menurut saya ini lucu, orang-orang sini kalau berhenti di lampu merah terutama motor suka berhenti di depan marka penyeberangan (zebra cross).
Biaya hidup- saya adalah anak yang memilih untuk memasak sendiri daripada beli makanan matang. Makan besar paling murah di sini yaitu nasi pecel seharga Rp. 8.000,- sedangkan di Jogja Rp. 5.000,- dengan porsi yang sama, bahkan jauh dari perkotaan kamu bisa menemukannya seharga Rp. 3.000,- saja. Harga tersebut hanya dapat nasi kucing atau tempe mendoan kalau di Surabaya. Nah, untuk harga sembako tidak jauh berbeda antara Surabaya dan Jogja. Tergantung kamu beli di pedagang yang mana. Sama di Jogja juga ada pedagang yang jual rata-rata, di atas rata-rata, bahkan di bawah rata-rata. Senangnya saya tinggal di dekat Sidoarjo yang harga sembako cenderung lebih murah daripada tempat langganan saya. Kadang saya kalau jalan ke Sidoarjo mampir jajan dan beli sembako atau sayur mayur. Soal kos, di pusat kota kamu bisa dapat kos-kosan paling murah Rp. 300.000,- untuk 1 orang per kamar, kamar mandi luar, sudah ada kasur dan lemari, termasuk listrik dan air. Sedangkan di daerah saya tinggal (daerah industri), kos-kosan tipe tersebut kamu dapatkan paling murah Rp. 450.000,-. Sebelah kos saya baru saja selesai pembangunan jalan merr (middle east ring road) yaitu termasuk jalan utama di Surabaya, jalan ini terbentang dari ujung utara Kenjeran sampai ujung selatan tol menuju Bandara Juanda. Iya, kos saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai ke Bandara Juanda. Harga angkutan pun cukup murah Rp. 5.000,- saja untuk sekali jalan. Kalau mau lebih murah lagi pakai Bus Suroboyo cukup bayar dengan botol plastik kamu bisa keliling Surabaya. Sebelum meninggalkan tanah rantau ini saya harus mencoba Bus Suroboyo.
Nah, itu saja yang menjadi culture shock bagi saya selama saya tinggal di Surabaya. Selanjutnya culture shock dari daerah mana lagi yang akan saya rasakan?
Wassalammualaikum,





0 Komentar